Militer Jepang

Jepang adalah salah satu negara kalah perang pada PD II, militer jepang sudah sangat diperhitungkan sejak PD II, ekpansionis di negara-negara Asia seperti di Indonesia telah membuktikan kemampuan kekuatan militer jepang, hingga penyerangan Jepang kepada AS, yang berujung pada kekalahan Jepang Oleh AS ketika AS menjatukan Bom Atom di Hirosima dan Naga Saki.

dalam tilisan ini, akan membahas beberapa hal:

1. tokoh-tokoh militer jepang.

2 .kekuatan militer.

3.perkembangan kekuatan militer jepang.

1. Tokoh Milter Jepang

Tadamichi Kuribayashi (栗林忠道, 7 Juli 1891-23 Maret 1945) adalah seorang perwira tinggi Jepang dalam Perang Dunia II yang terkenal prestasinya dalam Pertempuran Iwo Jima. Tugas mempertahankan pulau kecil ini diberikan padanya oleh Jenderal Hideki Tojo. Dalam pertempuran ini dia memimpin kurang lebih 20.000 pasukan tanpa dukungan angkatan udara dan laut melawan 100.000 pasukan Amerika Serikat. Hampir seluruh prajuritnya bertempur sampai titik darah penghabisan, hanya 296 dari mereka yang menyerah. Dia dilaporkan melakukan seppuku menjelang detik-detik terakhir kejatuhan pulau itu ke tangan musuh.

Kuribayashi dilahirkan di perfektur Nagano dari keluarga samurai dan berdarah bangsawan. Dia adalah kepala keluarga yang baik, waktu-waktunya sebisa mungkin dia habiskan bersama keluarganya. Dalam perjalanan dinasnya, dia selalu melakukan komunikasi dengan mereka walaupun secara jarak jauh. Dia pernah mengenyam pendidikan di Kanada dan bertugas dua tahun sebagai deputi atase militer Jepang di Washington DC. Selama masa ini dia sering mengadakan perjalanan di berbagai daerah Amerika Serikat. Perjalanan ini membuatnya mengetahui lebih dalam tentang negara ini dan juga mendapat respek dari orang Amerika. Menurutnya perang modern akan banyak tergantung pada produksi industri, dia pernah mengemukakan pendapatnya ini pada rekan-rekannya bahwa perang dengan Amerika akan sia-sia karena mereka memiliki industri yang kuat, pendapat ini ditentang keras oleh sebagian kaum militer Jepang. Walaupun pandangannya cukup kontroversial, dia adalah salah satu dari sedikit perwira yang pernah mendapat kesempatan audisi dengan Kaisar Hirohito. Selain sebagai pemimpin militer, Kuribayashi juga adalah seorang yang berbakat sastra, karyanya antara lain syair Aikoku Koshin Kyoku (Lagu Cinta Tanah Air).

Kuribayashi sudah memperkirakan dua hal dalam menghadapi pertempuran yang menentukan ini yaitu Iwo Jima bagaimanapun akan jatuh juga ke tangan Amerika dan dirinya beserta seluruh pasukannya akan gugur. Namun dia tetap berusaha semaksimal mungkin mempertahankan pulau itu agar Amerika membayar semahal mungkin untuk upayanya.

Kuribayashi sudah mengenali pola penyerangan Amerika, karenanya dia tidak memfokuskan pada pendaratan mereka di pantai. Strateginya adalah menyuruh para insinyurnya untuk mendirikan benteng-benteng pertahanan bawah tanah. Di pulau kecil ini mereka menggali terowongan bawah tanah sepanjang 5000 meter yang saling berhubungan satu sama lain seperti jaring laba-laba.

Taktik ini terbukti keampuhannya. Selama delapan bulan pulau itu dibombardir Sekutu pulau itu, ditambah 72 hari sebelum pendaratan dibom berturut-turut oleh pesawat tempur, dan tiga hari sebelumnya oleh kapal perang mereka memuntahkan ribuan ton peluru pertahanan Kuribayashi tetap kokoh. Pesawat-pesawat pembom bingung menentukan target yang hendak dibom dan foto yang diambil pesawat intai tak ada gunanya karena taktik kamuflase Jepang yang hebat.

Kuribayashi juga pandai membangkitkan semangat anak buahnya, dia menginstruksikan agar setiap orang harus menganggap posisi pertahanannya sebagai kuburannya sendiri, bertempur sampai titik darah penghabisan dan membunuh musuh sebanyak mungkin, targetnya adalah setiap orang membunuh sepuluh musuh sebelum diri sendiri gugur. Dia mengendalikan pasukannya dengan tangan besi sehingga disiplin dan moril mereka baik sekali.

16 Maret 1945 pertahanan secara teratur berakhir, tapi Kuribayashi masih hidup , dia hanya terputus kontak dengan sebagian anak buahnya. Mayor Horie yang pernah menjadi salah satu staff Kuribayashi menulis: Letjen Kuribayashi memimpin pertempuran di bawah sinar lilin tanpa istirahat dan tanpa tidur dari hari ke hari. Hubungan antara dia dengan dunia luar masih ada tanggal 15 Maret. Kami kira dia gugur pada tanggal 17 Maret. Dia dipromosikan sebagai jenderal penuh pada hari itu. Dia berkata, “Pertahanan musuh 200 atau 300 meter dari kami, mereka menyerang kami dengan api yang disemburkan dari tank. Mereka menyerukan agar kami menyerah tapi kami tertawa dan tidak menghiraukannya.” Kabar tentang promosinya ini disampaikan Horie melalui kawat, namun tidak diketahui apakah Kuribayashi menerimanya.

23 Maret 1945, kawatnya yang terakhir berbunyi, “Kami tidak makan maupun minum selama lima hari, tapi semangat Yamato, semangat bertempur kami masih tinggi, kami akan bertempur sampai saat terakhir” dan “Kepada perwira-perwira di Chichi Jima, selamat tinggal dari Iwo”. Dia dilaporkan melakukan seppuku di salah satu tempat di terowongan bawah tanah itu, namun jenazahnya tidak pernah ditemukan. Iwo Jima sendiri baru diduduki Amerika tanggal 26 Maret 1945 dengan harga 6.800 tewas dan 17.000 lainnya terluka. Sementara di pihak Jepang hanya 1.083 dari 22.000 orang yang selamat dan tertawan.

Amerika tidak bisa tidak merasa kagum pada kegigihan Kuribayashi mempertahankan Iwo Jima hingga titik darah terakhir.Rasa kagum ini telah dimulai sejak hari pertama pertempuran dan terus bertambah hingga berakhirnya pertempuran. Jenderal Holland Smith, komandan pasukan Amerika dalam pertempuran Iwo Jima berkata, “Dari semua lawan kita di Pasifik, Kuribayashi adalah yang paling tiada tanding.” Jenderal Cattes yang pernah secara pribadi menyerukan lewat corong pengeras suara agar Kuribayashi menyerah juga memuji pertahanannya yang luar biasa.

Amerika memang telah beberapa kali berhadapan dengan panglima Jepang yang pandai dan memukau mereka, tapi belum pernah pujian mereka begitu tinggi seperti terhadap Jenderal Kuribayashi. Kuribayashi adalah orang yang harus mereka takuti ketika masih hidup akan tetapi mungkin ia lebih berbahaya setelah meninggal karena ia sanggup menjadi pahlawan perang yang pasti dipuja-puja kalau saja nasionalisme baru tumbuh lagi di Jepang. Maka tidak heran kalau Jenderal Smith juga pernah berkata, “Semoga Jepang tidak pernah memiliki orang lain seperti dia.”

Mori Ōgai (森 鷗外 atau 森 鴎外?) (17 Februari 1862 – 9 Juli 1922) adalah seorang novelis Jepang, penerjemah, kritikus, sekaligus dokter militer, peneliti kedokteran, dan seorang birokrat. Nama aslinya adalah Mori Rintarō (林太郎?). Setelah Perang Dunia II, nama Mori Ōgai disejajarkan dengan Natsume Sōseki sebagai dua sastrawan besar Jepang dari zaman Meiji-zaman Taisho. Lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Kekaisaran Tokyo.

Setelah lulus sebagai dokter, Mori diterima di korps dokter militer angkatan darat, dan belajar ke Jerman selama 4 tahun atas biaya negara. Sepulangnya dari Jerman, Mori menerbitkan antologi puisi terjemahan berjudul Omokage dan novel Maihime (Dancing Girl). Improvisatoren (bahasa Inggris: The Improvisatore: or, Life in Italy) oleh Hans Christian Andersen diterjemahkannya sebagai Sokkyō Shijin. Mori mulai aktif sebagai penulis sejak menerbitkan majalah Shigarami Sōshi.

Setelah diangkat sebagai Inspektur Jenderal Korps Dokter Militer Angkatan Darat, Mori menghentikan kegiatan tulis menulis untuk sementara. Namun setelah terbitnya majalah Subaru, ia kembali menulis dan menghasilkan karya-karya, seperti: Wita Sekusuarisu (dari bahasa Latin: vita sexualis) dan Gan (The Wild Geese).

Novel Okitsu Yagoemon no Isho ditulisnya setelah peristiwa junshi yang dilakukan Nogi Maresuke. Sejak itu pula, Mori menulis novel yang bertemakan sejarah, seperti Abe Ichizoku, Takasebune, dan biografi tokoh sejarah Shibue Chūsai. Sebagai birokrat, Mori menjabat direktur Museum Kekaisaran (sekarang Museum Nasional Tokyo, Museum Nasional Nara, dan Museum Nasional Kyoto), serta direktur pertama dari Akademi Seni Kekaisaran (sekarang Japan Art Academy).

Lahir di kota Tsuwano, Provinsi Iwami (sekarang Prefektur Shimane) sebagai putra sulung Mori Shizuyasu (Mori Shizuo) dan Mineko. Keluarganya secara turun temurun bekerja sebagai dokter keluarga di kantor perawatan kesehatan dan apotek untuk klan Kamei yang memerintah han Tsuwano. Sejak kecil, Mori sudah belajar Analek Konfusius, filsafat Mensius, dan bahasa Belanda. Sishu Wujing sudah dibacanya beberapa kali hingga tamat. Berdasarkan catatan akademik waktu itu, kemampuan akademik Mori ketika berusia 9 tahun diperkirakan setara dengan anak berusia 15 tahun.[1]

Pada bulan Juni 1872, Mori yang masih berusia 11 tahun diajak ayahnya pindah ke Tokyo. Ayahnya pindah ke Tokyo karena terkena dampak penghapusan sistem han. Di Tokyo, Mori mengikuti sekolah privat Shimbungakusha di distrik Hongo. Di sekolahnya diajarkan bahasa Jerman yang wajib dipelajari untuk persiapan masuk sekolah kedokteran negeri. Di rumah filsuf Nishi Amane yang masih kerabatnya, Mori sering menginap dan menumpang makan karena rumah tersebut dekat dengan sekolahnya. Pendidikan yang diterimanya sejak kecil menjadikan Mori lancar berbahasa Jerman hingga bisa berdebat dengan ilmuwan Jerman. Selain itu, Mori dalam karya-karyanya sering menggunakan kutipan dari bahasa Jerman, Perancis, dan Tionghoa klasik.

Pada tahun 1874, Mori diterima di tingkat persiapan sekolah kedokteran Dai Ichi Daigaku-ku Igakkō (sekarang Fakultas Kedokteran Universitas Tokyo). Pada waktu itu, sekolah dokter di Jepang masih diajar oleh dokter-dokter dari Jerman. Walaupun kuliah dan ujian semuanya dilakukan dalam bahasa Jerman, Mori lulus sebagai dokter pada bulan Juli 1881 dalam usia 19 tahun 8 bulan. Selanjutnya pada bulan Desember 1881, Mori diterima di Korps Dokter Militer Angkatan Darat, dan mulai bekerja di Rumah Sakit Angkatan Darat Tokyo.

Pada tahun 1884, Mori yang berusia 23 tahun diperintahkan belajar ke Jerman. Berangkat dari Yokohama pada bulan Agustus 1884 dengan kapal Perancis, kapal yang ditumpanginya berlayar melalui Terusan Suez dan tiba di Marseille. Setelah meneruskan perjalanan dengan kereta api, Mori tiba di Berlin pada bulan Oktober. Tugas pertamanya adalah meneliti sistem higiene di Universitas Leipzig. Pada bulan Maret 1886, Mori pindah ke München dan belajar di Universitas München dengan dosen Max Josef von Pettenkofer. Selanjutnya pada bulan April 1887, Mori pindah ke Berlin dan bersama-sama Kitasato Shibasaburō mengunjungi Robert Koch di Universitas Berlin untuk belajar sistem higiene. Selama berada di Jerman, Mori tidak hanya belajar kedokteran militer, melainkan juga mendalami kesusastraan dan filsafat Barat di waktu luang. Di akhir tugasnya (Maret 1888), Mori ditempatkan di resimen infanteri Pengawal Kerajaan Prusia sebelum tiba kembali di Jepang pada bulan September tahun yang sama.

Mori mulai bekerja sebagai dosen Sekolah Kedokteran Militer Angkatan Darat pada bulan Oktober 1888. Kembalinya Mori ke Jepang diikuti dengan kedatangan seorang wanita Jerman bernama Elise Wiegert. Setelah tinggal bersama Mori di Jepang sekitar 1 bulan, Elise memilih pulang ke Jerman. Kisah kasih dengan Elise merupakan inspirasi bagi novel Maihime (1890).

Pada bulan Maret 1889. Mori menikah dengan Toshiko, putri sulung Laksamana Madya Noriyoshi Akamatsu yang dikenalnya hanya melalui fotonya saja. Setelah itu, bulan Agustus 1889, Mori memimpin kelompok bernama Shinseisha (Kelompok Suara Baru) yang menerbitkan kumpulan puisi terjemahan, Omokage di majalah Kokumin no Tomo. Sementara itu, Mori menerbitkan majalah sastra Shigarami Sōshi bersama adiknya, Miki Takeji. Penerbitan Shigarami Sōshi menjadikan dirinya mulai menerjemahkan karya sastra luar negeri, seperti Faust (Johann Wolfgang von Goethe) dan Improvisatoren (Hans Christian Andersen).

Di tengah publik Jepang yang masih kurang informasi tentang Jerman, Mori secara berturut-turut menerbitkan tiga novel dengan latar belakang cerita di Berlin. Pada bulan Januari 1890, novel Maihime dimuat majalah Kuni no Tomo yang dilanjutkan pada bulan Agustus dengan Utakata no Ki (A Sad Tale) di majalah Shigarami Sōshi, serta Fumizukai (The Courier) pada bulan Januari 1891. Terutama novel Maihime benar-benar mengagetkan publik Jepang karena isinya mengisahkan percintaan orang Jepang dengan orang asing berkulit putih. Ketiga karyanya tersebut menjadi sumber polemik dengan Ishibashi Ningetsu. Pada bulan September 1890, Mori bercerai dengan istrinya setelah lahir putra sulung yang diberi nama Mori Oto. Sementara itu, polemik sastra yang dikenal sebagai Botsurisō Ronsō juga terjadi antara Mori dan Tsubouchi Shōyō. Polemik tersebut menjadi berkepanjangan setelah prinsip realisme Tsubouchi dikritiknya dalam majalah Shigarami Sōshi.

Pada bulan Agustus 1891, Mori mendapat gelar doktor dalam ilmu kedokteran. Setelah itu, Mori diangkat sebagai kepala sekolah dokter militer pada bulan November 1893. Selama Perang Sino-Jepang Pertama, Mori terjun berperang sebagai komisaris dokter militer di Manchuria dari tahun 1894 hingga 1895. Sekembalinya di Jepang bulan September 1895, Mori meneruskan jabatan yang dipegangnya sebelum pecah perang. Pada tahun 1896, Mori bersama Kōda Rohan dan Saitō Ryokuu mendirikan majalah Mesamashisō sebagai kelanjutan majalah Shigarami Sōshi. Mereka bertiga menulis seri kritik sastra berjudul San-nin Jōgo, dan majalah Mesamashisō terbit hingga tahun 1902.

Pada bulan Juni 1898, Mori diangkat sebagai komandan dokter militer pengawal kekaisaran, sekaligus merangkap sebagai kepala sekolah dokter militer di Tokyo. Penugasan tersebut tidak berlangsung lama, karena Mori diperintahkan bertugas ke kota Kokura, Kyushu sebagai Kepala Korps Dokter Militer Divisi XII. Di sana, Mori menikah kembali dengan Shige, putri hakim Hiroomi Araki pada bulan Januari 1902. Sebelum kembali ke Tokyo pada bulan Maret 1902, Mori menulis Kokura Nikki (Buku Harian Kokura).

Selama Perang Rusia-Jepang (1904-1906), Mori terjun dalam peperangan sebagai komandan dokter militer Divisi II di Manchuria hingga bulan Januari 1906. Sekembalinya di Jepang pada bulan Januari 1906, Mori kembali ke pos yang ditinggalkannya saat pecah perang. Selama Perang Sino-Jepang Pertama dan Perang Rusia-Jepang, kegiatan tulis menulis sama sekali dilupakannya.

Pada bulan Oktober 1907, Mori diangkat sebagai Inspektur Jenderal Korps Dokter Militer AD (Rikugun gun-i sōkan) yang merupakan jabatan tertinggi bagi dokter militer. Jabatan Direktur Biro Urusan Kedokteran di Departemen Angkatan Darat (Rikugun-shō imukyoku-chō) juga ikut dirangkapnya. Sekitar dua tahun berikutnya, Mori kembali aktif menulis setelah terbitnya majalah Subaru, dan selalu menyumbangkan tulisan di setiap edisi. Novelnya yang dimuat di majalah Subaru, misalnya: Hannichi, Wita Sekusuarisu, Niwatori, dan Seinen. Selain itu, Mori juga menyelesaikan drama berjudul Kamen dan Shizuka.

Pada tahun 1911, Mori menerbitkan dua novel sekaligus, Gan dan Kaijin. Lima hari setelah peristiwa junshi yang dilakukan Nogi Maresuke, Mori menyelesaikan penulisan Okitsu Yagoemon no Isho.[2] Selanjutnya Mori banyak menulis novel bertemakan sejarah, seperti Abe Ichizoku, Sanshōdayū, Takasebune, dan Shibue Chūsai.

Mori mengundurkan diri dari dinas militer pada bulan April 1916. Setelah itu, pada bulan Desember 1917, Mori diangkat sebagai kurator Museum Kekaisaran (sekarang Museum Nasional Tokyo), sekaligus merangkap Zusho no Kami (kepala perpustakaan) di Bagian Arsip dan Makam, Departemen Rumah Tangga Kekaisaran. Selanjutnya, Mori diangkat direktur pertama Akademi Seni Kekaisaran (sekarang Japan Art Academy) pada bulan September 1919. Salah satu tugasnya sebagai Zusho no Kami adalah menentukan nama almarhum bagi kaisar yang mangkat. Mori tidak begitu menyukai penamaan zaman Meiji dan zaman Taisho, dan diundang sebagai Zusho no Kami untuk menentukan nama zaman yang berikutnya. Kondisi kesehatannya yang terus menurun membuat Mori menunjuk Masuzō Yoshida untuk menggantikannya. Yoshida nantinya dikenal sebagai pengusul nama zaman yang baru sebagai zaman Showa.

Pada tanggal 9 Juli 1922, Mori Ōgai, 60 tahun, meninggal dunia akibat penyakit ginjal dan tuberkulosa. Pesan terakhir yang ditulisnya tanggal 7 Juli 1922 berbunyi, “Kuingin mati sebagai Mori Rintarō yang orang Iwami” (余ハ石見人森林太郎トシテ死セント欲ス Yo wa Iwamijin Mori Rintarō toshite shisen to hossu?). Sesuai pesan terakhirnya, gelar dan segala macam atribut kehormatan ditanggalkan. Di batu nisannya hanya tertulis “Mori Rintarō”. Makamnya berada di kuil bernama Kōfuku-ji (sekarang bernama Zenrin-ji, di kota Mitaka, Tokyo). Tulangnya dimakamkan kembali di kuil bernama Yōmeiji, kota Tsuwano, Prefektur Shimane.

Takeichi Nishi (12 Juli 1902 – 22 Maret 1945) adalah seorang perwira tentara Jepang yang berpangkat terakhir letnan kolonel yang setelah kematiannya dinaikkan menjadi kolonel. Dia seorang peraih mendali emas dalam Olimpiade pada tahun 1932 dalam kejuaraan lompat kuda. Dia komandan pasukan tank dalam pertempuran di pulau Iwo Jima dan ia tewas di pulau tersebut.

Takijiro Onishi (大西瀧治郎, 2 Juni 1891-16 Agustus 1945) adalah laksamana Jepang dalam Perang Dunia II yang dikenal sebagai pencetus serangan kamikaze.

Pada permulaan Perang Pasifik, salah satu babak dari Perang Dunia II, Onishi adalah kepala divisi pengembangan penerbangan angkatan laut dalam kementrian perlengkapan perang. Dia juga bertanggung jawab atas masalah teknis dalam penyerbuan Pearl Harbor tahun 1941 di bawah komando Laksamana Isoroku Yamamoto. Onishi sendiri sebenarnya menentang rencana penyerbuan yang diyakininya akan memicu perang berskala besar dengan musuh yang lebih kuat dan memiliki cukup sumber daya untuk membuat Jepang menyerah tanpa syarat.

Oktober 1944, Onishi menjadi komandan Armada Udara I di Filipina utara. Walaupun namanya sering dihubungkan dengan perencanaan taktik serangan pesawat bunuh diri terhadap kapal-kapal induk Sekutu, proyek ini sebenarnya sudah ada sebelum dia menjabat dan Onishi sendiri sebenarnya tidak menyetujui cara ini. Menyusul jatuhnya Kepulauan Mariana, Onishi mengubah pandangannya dan memerintahkan penyerangan dengan cara demikian. Rencana ini adalah dengan pemakaian pesawat-pesawat Mitsubishi A6M Zero yang diisi dengan bom seberat 250 kg, pesawat-pesawat ini akan menukik dan menabrak kapal-kapal Sekutu lalu meledak bersama pilotnya.

Dalam rapat di Lapangan Udara Mabacalat (Clark Air Base) dekat Manila, dia mengumpulkan para perwira staffnya di lapangan terbang itu dan mengatakan dengan suara terharu bahwa takdir Dai Nippon terletak di tangan pilot-pilot yang merupakan anak buahnya. Disini dia mengusulkan suatu operasi yang sungguh luar biasa nekad. Dia berkata, “Saya pikir tiada cara lain lagi untuk mempertahankan Filipina selain memasang 250 kg bom pada pesawat-pesawat zero dan menabrakkannya ke kapal induk Amerika, ini adalah untuk menahan mereka selama seminggu”

Usul ini diterima opsir-opsir Jepang dalam suasana tegang. Setelah Onishi selesai dengan pidatonya, Komandan Asaichi Tamai, opsir tertinggi di Magracut meminta waktu untuk memikirkan dan bertukar pikiran dengan para komandan skuadronnya. Namun dari sorot mata mereka terlihat jelas bahwa mereka bersedia gugur bagi Tenno Heika, bagi kaisar, bagi negaranya. Bahkan seorang letnan bernama Yukio Seki yang baru saja menikah sebelum berangkat ke medan perang juga bersedia melakukan misi suci untuk membela negara ini.

Sayangnya penyerangan kamikaze ini baru dimulai Jepang setelah kapasitas produksi perkapalan Sekutu tumbuh pesat. Usaha mati-matian mereka pun akhirnya sia-sia karena tidak lama kemudian Jepang menyerah tanpa syarat. 16 Agustus 1645 setelah Jepang menyerah, Onishi melakukan seppuku di markasnya. Dia bunuh diri dengan merobek perutnya dan tanpa menggunakan bantuan kaishakunin (asisten seppuku) sebelum akhirnya meninggal 15 jam kemudian. Dalam surat perpisahannya dia meminta maaf pada sekitar 4000 pilot yang telah dikirimnya sebagai pilot bunuh diri, dia juga meminta agar generasi muda yang selamat dari perang agar dengan semangat kamikaze kembali membangun negaranya dan perdamaian dunia serta jangan pernah melupakan kebanggan sebagai orang Jepang. Dia juga menyatakan dengan kematiannya dia bertanggung jawab pada para pilot kamikaze dan keluarganya.

Hideki Tojo (東條 英機 Tōjō Hideki) (30 Desember 1884–23 Desember 1948) adalah jenderal Jepang dan PM ke-40 Jepang (18 Oktober 1941-22 Juli 1944). Tojo ialah anggota klik tentara yang mendorong Jepang dalam perang di akhir 1930-an. Sebagai Menteri Perang pada 1940 ialah penolong dalam kepemimpinan Jepang dalam Blok Axis dengan Jerman Nazi dan Italia. Di antara keputusannya ialah izin persetujuan pemerintah dalam percobaan biologis terhadap para tawanan perang.

Mulai 1941, Tojo ialah PM dan menguasai seluruh militer Jepang, yang begitu mendominasi Jepang saat itu yang ia sesungguhnya ialah diktator bangsa. Ia digantikan pada 1944 menyusul serentetan kekalahan tentara Jepang. Setelah perang, ia menembak dirinya sendiri di dada untuk bunuh diri namun gagal.

Tojo dalam tahanan
Tojo dalam tahanan

Ia kemudian diadili oleh Pengadilan Militer Internasional untuk Timur Jauh sebagai penjahat perang. Ia dinyatakan bersalah atas tuduhan 1 (peperangan agresi, dan perang dalam pelanggaran terhadap hukum internasional), tuduhan 27 (mengadakan perang tak beralasan terhadap Tiongkok), tuduhan 29 (peperangan agresif melawan AS), tuduhan 31 (mengadakan perang agresif melawan Persemakmuran Inggris), tuduhan 32 (mengadakan perang agresif melawan Belanda), tuduhan 33 (mengadakan perang agresif melawan Prancis (Indochina)), dan tuduhan 54 (memerintahkan, membenarkan, dan mengizinkan perlakuan tak berperikemanusiaan terhadap penjahat perang dan lainnya). Ia divonis mati pada 12 November 1948, dan menerima hukuman gantung.

Karena perbuatan kriminal di bawah otoritasnya, Tojo dianggap bertanggung jawab membunuh hampir 4 juta orang-orang Tionghoa.

Hisaichi Terauchi (寺内 寿一 Terauchi Hisaichi ?) (lahir 8 Agustus 1879, wafat 12 Juni 1946) adalah seorang Marsekal Medan (Field Marshall) Angkatan Darat Kekaisaran Jepang dan Panglima Grup Angkatan Darat Expedisi Selatan pada masa Perang Dunia Kedua.

Ia merupakan anak sulung Perdana Menteri Terauchi Masatake, lahir di prefektur Yamaguchi. Setelah lulus dari pendidikan Akademi Militer Kekaisaran Jepang pada tahun 1900, ia bergabung di Angkatan Darat dan ditugaskan dalam Perang Rusia-Jepang. Usai perang, Terauchi menjadi atase militer di Jerman dan bekerja sebagai pengajar di Akademi Militer. Marsekal Terauchi menjadi terkenal setelah Angkatan Laut Jepang yang dipimpinnya berhasil mengalahkan Angkatan Laut Rusia pada tahun 1905. Tahun tersebut dan pertempuran tersebut dianggap sebagai titik tolak kebangkitan bangsa Asia (ras kulit kuning) atas dominasi bangsa Eropa (ras kulit putih). Di berbagai penjuru Asia, kemenangan Marsekal Terauchi disambut dengan meriah.

Pada tahun 1919, ia dianugerahi gelar hakushaku (count) dan naik pangkat menjadi kolonel. Kembali naik pangkat menjadi mayor jenderal pada 1924 dan diserahi tugas untuk memimpin pasukan Angkatan Darat Chōsen di Korea tahun 1927. Setelah menjadi letnan jenderal pada tahun 1929, ia diangkat menjadi pemimpin pasukan Divisi Ke-5 dan kemudian dipindahtugaskan ke Divisi Ke-4 pada tahun 1932. Tahun 1934, ia menjadi panglima Angkatan Darat di Taiwan.

Bulan Oktober 1935, ia dipromosikan menjadi jenderal (penuh) dan terlibat dalam faksi Kodoha dalam politik Jepang. Setelah peristiwa Insiden 26 Februari, ia merupakan sosok pilihan dari Angkatan Darat yang diangkat menjadi Menteri Urusan Perang (War Minister) pada tahun 1936, dalam pemerintahan Perdana Menteri Hirota Koki, yang selanjutnya mempertajam konflik antara kubu militer dan kubu sipil di dalam Diet.

Segera setelah terjadinya Perang Tiongkok-Jepang Kedua, ia kembali ditugaskan ke medan perang sebagai panglima Angkatan Darat Kawasan Tiongkok Utara. Tahun 1938, ia dianugerahi tanda kehormatan Order of the Rising Sun kelas pertama dan pada tanggal 6 November 1941 diangkat sebagai panglima Grup Angkatan Darat Ekspedisi Selatan (Southern Expeditionary Army Group). Kemudian ia bersama Laksamana Yamamoto Isoroku menyusun rencana perang untuk Perang Pasifik.

Setelah memimpin penyerbuan Asia Tenggara pada tahun 1941-1942, ia bermarkas besar di Singapura dan dipromosikan menjadi Marsekal Medan (lebih tinggi daripada jenderal). Selanjutnya ia pindah ke Filipina pada bulan Mei 1944. Ketika Sekutu mengancam Filipina, ia mundur ke Saigon, di Indochina Perancis (sekarang Vietnam). Mendengar lepasnya Burma dari Jepang, ia menderita stroke pada 10 Mei 1945. Pada tanggal 12 September 1945, Jenderal Itagaki Seishiro, mewakili Terauchi, menyerah kepada Sekutu di Singapura. Terauchi sendiri menyerah kepada Lord Mountbatten pada tanggal 30 September 1945 dan meninggal sebagai tawanan perang di Malaya setelah perang usai.

Tōgō Heihachirō (東郷 平八郎 Tōgō Heihachirō, 22 Desember 1847 – 5 Mei 1934) adalah seorang laksamana Jepang dan salah satu pahlawan angkatan laut terbesar Jepang. Ia terlahir sebagai anak dari seorang samurai klan Kagoshima, yang mewarisi darah pejuang.

Sesaat setelah Jepang melakukan restorasi besar-besaran dalam Restorasi Meiji, Togo berangkat ke Britania Raya untuk belajar di Pusat Pendidikan AL Inggris. Selama tujuh tahun, mulai 1871 hingga 1879, ia mempelajari taktik perang laut modern. Agaknya selama itu pula ia menyelidiki keberadaan dan kemampuan Angkatan Laut negara-negara Eropa.

Perang Perancis-Tiongkok (1884-1885)

Setelah kembali ke Angkatan Laut Kekaisaran Jepang, Togo menerima beberapa tugas, pertama sebagai kapten Daini Teibo dan kemudian Amagi. Selama Perang Perancis-Tiongkok (1884-1885), Togo, di atas Amagi, mengamati dari dekat aksi armada Perancis di bawah Laksamana Courbert.

Togo juga mengamati pertempuran darat antara pasukan Perancis dan Tiongkok di Formosa (Taiwan), di bawah bimbingan Joffre, yang merupakan “Commander-in-Chief” pasukan Perancis di masa datang selama Perang Dunia I.

Perang Sino-Jepang (1894-1895)

Pada 1894, pada awal Perang Tiongkok-Jepang, Togo, sebagai kapten kapal cruiser Naniwa, menenggelamkan Kowshing, sebuah kapal transportasi Britania yang bekerja untuk angkatan laut China. Sebuah laporan mengenai insiden tersebut dikirim oleh Suematsu Kencho kepada Mutsu Munemitsu.

Peristiwa tersebut hampir menimbulkan konflik diplomatik antara Jepang dan Britania, namun akhirnya dianggap juri-juri Britania sebagai sesuai dengan Hukum Internasional, membuat Togo terkenal dalam sekejap karena kepandaiannya menghadapi masalah yang mencemaskan melibatkan negara asing dan peraturannya.

Pada 1903, Menteri Angkatan Laut Yamamoto Gonnohyoe menugaskan dia sebagai laksamana kepala Armada Gabungan dari Angkatan Laut Kekaisaran Jepang. Ini mengagetkan banyak orang termasuk Kaisar Meiji yang menanyakan Yamamoto mengapa menugaskan Togo. Yamamoto menjawab, “karena Togo adalah seorang yang beruntung.”

Dalam Perang Rusia-Jepang Togo mengalahkan armada Rusia di Port Arthur pada 1904 dan menghancurkan Armada Baltik Rusia pada 1905 di Perang Tsushima. Pertempuran bersejarah ini mematahkan kekuatan Rusia di Asia Timur.

2. kekuatan militer

kekuatan militer adalah sebuah tuntan yang sangat dibutuhkan oleh sebuah negara dalam menjaga dan menjamin kedaulatan wilayahnya, baik udara, laut maupun darat, sehingga tuntutan untuk memiliki kekuatan bersenjata atau kekuatan militer adalah hal yang utama, seperti yang dijelaskan oleh Ny.Conny dalam buku “Postur Ideal TNI” menegaskan bahwa kekauatan beresnjata sangat memiliki peranan penting dalam sebuah negara yang berdaulat, sehingga kekuatan bersenjata harus terus menerus ditata agar tetap menjadi sebuah prioraitas dalam menjaga kedaulatan sebuah negara.

3. kekuatan Militer Jepang.

seperti yang kita ketahui bahwa Jepang adalah sebuah negara Industri maju, yang kemudian mengantarkan jepang menjadi negara yang memiliki kemajuan dalam bidang ekonominya, selama ini, pasca PD II Jepang hanya di Back Up oleh AS (sekutunya) namun di tahun 2002 Jepang kemudian mulai melirik peran penting sebuah nilai pertahanan keamanan, sehingga jepang pun mengambil keputusan untuk mengembangkan kekuatan bersenjatanya, bila kita milirik cina yang menjadi momok menakutkan oleh AS, ada sebuah hal pentinng yaitu kekuatan ekonomi yang membuat cina mampu untuk menganggarkan anggaran belanja militer yang begitu tinggi sehingga kekuatan ekonomi dan militer di cinapun semakin meningkat, begitu pula dangan jepang yang telah siap dengan industri dan teknologi tinggi dengan ekonomi yang mapan sudah tidak diragukan lagi bahwa jepang dapat memiliki kekuatan bersenjata yang kuat dan maju.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: