Ekonomi & Teknologi

Ekonomi pasar bebas dan terindustrisasi Jepang merupakan ketiga terbesar di dunia setelah Amerika Serikat dan Tiongkok dari segi paritas daya beli internasional. Ekonominya sangat efisien dan bersaing dalam area yang berhubungan ke perdagangan internasional, tapi produktivitas lebih rendah di bidang agriklutur, distribusi, dan pelayanan.

Kerjasama di antara pemerintahan dan perindustrian, etika kerja yang sehat, penguasaan teknologi, penekanan terhadap pendidikan dan alokasi yang kecil untuk pertahanan (1% dari PDB) merupakan antara faktor-faktor yang memungkinkan Jepang berkembang pesat sehingga menjadi salah satu negara yang setanding dengan Amerika Serikat dan EU dari segi penguasaan ekonomi.

Ciri-ciri ekonomi jelas termasuk kerjasama dalam pengilangan, pembekalan, pengedaran, dan bank dalam kelompok yang terkait rapat yang dikenal sebagai keiretsu; perusahaan swasta berkuasa dan shunto; hubungan baik dengan birokrasi pemerintahan, dan jaminan karir sepanjang hayat (shushin koyo) untuk hampir sepertiga tenaga kerja di kota, biasanya kilang kolar biru dengan perusahaan kerja yang kuat. Perusahaan kecil dan sederhana, wanita, dan pekerja asing biasanya tidak mempunyai fasilitas seperti itu. Bagaimanapun, kebanyakan ciri tersebut semakin terkikis, dan keadaan ekonomi kini sedang berhadapan dengan stagnasi.

Perindustrian merupakan sektor ekonomi yang paling utama buat Jepang yang amat bergantung kepada pengimporan bahan mentah dan minyak. Pertanian yang merupakan sektor ekonomi yang kecil mempunyai subsidi yang tinggi dan merupakan satu sektor yang dilindungi. Ini dapat dilihat dengan jelas pada pertanian yang melibatkan beras. Beras yang diimpor dikenakan pajak sebanyak 490% dan pemerintahan hanya membolehkan kuota sebanyak 3% jumlah beras yang ada di pasaran beras. Selain mengawal pasaran beras, Jepang juga mengadakan usaha untuk menciptakan buah-buahan dan sayur-sayuran yang mempunyai rasa yang sedap namun mahal. Namun begitu ia sangat berkualitas tinggi. Biasanya Jepang mampu menampung keperluan beras rakyatnya sendiri (kecuali penggunaannya untuk membuat kerupuk nasi dan makanan diproses), namun negara ini perlu mengimpor kira-kira 50% keperluannya bagi jenis sereal lain dan makanan ternak Jepang mempunyai salah satu industri perikanan yang terbesar di dunia yang mencakup hampir 15% penangkapan ikan seluruh dunia, mendorong pada dugaan bahwa perikanan Jepang sedang mengakibatkan berkurangnya jumlah ikan di laut yang mendadak, khususnya ikan tuna.

Secara keseluruhan, selama tiga dekade, pertumbuhan ekonomi sebenarnya amat mengagumkan: mencatatkan rerata 10% pada dekade 1960-an, rerata 5% pada 1970-an, dan rerata 4% pada 1980-an. Pertumbuhan ini namun mulai menguap pada dekade 1990-an, terutamanya disebabkan dampak sampingan perburuhan secara berlebihan ketika lewat 1980-an dan dasar-dasar ekonomi pengurangan inflasi yang bertujuan memerah keluar kelebihan spekulasi pasaran saham dan penjualan tanah. Usaha-usaha pemerintahan untuk menghidupkan kembali pertumbuhan ekonomi kurang berhasil dan terus terjepit pada tahun 2000-2001 akibat ekonomi AS dan benua Asia turut menjadi lembab.

Hal itu menyebabkan PM Junichiro Koizumi mengesahkan atau meluluskan (tetapi adakalanya gagal) undang-undang perburuhan asing dan swastanisasi secara besar-besaran yang dipercayainya dapat membantu merangsang kembali ekonomi Jepang yang lengang ini. Sejauh ini undang-undang tersebut kelihatan menunjukkan dampaknya dalam pelbagai aspek seperti perburuhan asing, namun ini belum dapat membantu ekonomi Jepang untuk tumbuh kembali. Koizumi juga mencoba untuk meluluskan rancangan swastanisasi besar yang akan menswastakan semua kantor pos pemerintahan Jepang. Dalam fase pertamanya, menjelang 2007, kantor-kantor ini terbagi pada tujuh entitas dan daripadanya, entitas-entitas tersebut barangkali akan diambil alih oleh perusahaan-perusahaan besar.

Penyesakan kepadatan penduduk serta “penuaan” populasi (jumlah ManULa makin ramai, mengakibatkan penurunan populasi seperti yang diperkirakan) merupakan dua masalah jangka masa panjang yang utama, bahkan juga peningkatan biaya pemeliharaan kesihatan. Industri robot dijadikan kekuatan ekonomi jangka masa panjang yang amat penting, menyaksikan Jepang mempunyai 410.000 dari 720.000 buah robot yang berfungsi di seluruh dunia.

Sektor pertanian

Hasil utama pertanian Negara Jepang adalah bahan pangan. Walaupun hanya 16% dari luas daratan di Jepang yang dipergunakan untuk pertanian, namun hasilnya termasuk memuaskan. Besarnya hasil pertanian didukung oleh kesuburan lahan pertaniannya karena tanahnya mengandung abu vulkanis. Di samping itu, penggarapan lahan pertanian dilakukan secara intensif dengan didukung teknologi yang maju. Hasil pertaniannya meliputi padi, kentang, jagung, gandum, kacang, kedelai, teh, susu, peternakan babi, ayam, dan telur. Sayur-sayurannya berupa lobak, kol, ketimun, tomat, wortel, bayam, dan selada. Sedangkan buah-buahan yang banyak ditanam adalah jeruk dan apel.

Sektor perikanan

Jepang menempati urutan ke-2 di dunia di belakang RRT dalam tonase penangkapan ikan—11,9 juta ton pada 1989, turun pelan-pelan dari 11,1 juta ton pada 1980. Setelah krisis energi 1973, perikanan laut dalam di Jepang menurun, dengan tangkapan tahunan pada perataan 1980-an 2 juta ton. Perikanan lepas pantai terhitung reratanya 50 % dari penangkapan ikan total negeri itu pada akhir 1980-an meski mengalami kenaikan dan penurunan berulang pada masa itu.

Perikanan pesisir oleh perahu kecil, jala, atau teknik campuran terhitung sekitar sepertiga produksi total industri itu, sedangkan perikanan pesisir laut oleh kapal ukuran menengah terhitung sekitar lebih dari separuh produksi total. Perikanan laut dalam dari perahu menyusun sisanya. Di antara spesies ikan yang ditangkap misalnya: sarden, tuna, kepiting, udang, salmon, makerel.

Jepang mempertahankan armada perikanan terbesar di dunia dan terhitung sekitar 15% penangkapan global, memunculkan sejumlah pernyataan bahwa perikanan Jepang sedang menimbulkan pengurangan stok ikan seperti tuna. Japan juga menebarkan kontroversi dengan mendukung perburuan ikan paus.

Sektor industri
Industri ekspor utama Jepang adalah otomotif, elektronik konsumen (lihat industri elektronik konsumen Jepang), komputer, semikonduktor, besi, dan baja.

Industri penting lain dalam ekonomi Jepang adalah petrokimia, farmasi, bioindustri, galangan kapal, dirgantara, tekstil, dan makanan yang diproses.

Industri manufaktur Jepang banyak bergantung pada impor bahan mentah dan BBM.

2002 menyaksikan penurunan jumlah ladang manufaktur dalam negeri Jepang.

Sektor pertambangan

Pertambangan adalah industri yang sedang menurun di Jepang pada 1980-an. Produksi batu bara dalam negeri anjlok dari puncaknya 55 juta ton pada 1960 ke hampir lebih dari 16 juta ton pada 1985, sedangkan impor batu bara naik hingga sekitar 91 juta ton pada 1987. Perusahaan pertambangan batu bara dalam negeri menghadapi impor batu bara murah dan biaya produksi yang tinggi, yang menyebabkan defisit kronis pada 1980-an. Pada 1980-an, hampir sekitar 1 juta ton cadangan batu bara Jepang sebagian besar digunakan untuk batu arang. Sebagian besar batu bara yang dikonsumsi Jepang biasa digunakan untuk memproduksi pembangkit listrik.

Sektor jasa

Sektor jasa di Jepang terhitung sekitar tiga perempat penghasilan ekonomi totalnya. Bank, asuransi, real estate, transportasi, dan telekomunikasi semuanya adalah industri utama seperti Mitsubishi UFJ, Mizuho, NTT, TEPCO, Nomura, Mitsubishi Estate, Tokio Marine, Japan Railway, Seven & I, ANA yang terhitung sebagao salah satu perusahaan besar dunia. Pemerintahan Koizumi menswastakan Japan Post, asalah satu penyedia simpanan dan asuransi terbesar di negeri itu dari 2014. 6 keiretsu utama adalah Mitsubishi, Sumitomo, Fuyo, Mitsui, Dai-Ichi Kangyo dan Sanwa Groups. Jepang adalah rumah bagi 326 perusahaan dari Forbes Global 2000 atau 16,3% (dari 2006).

Satu Tanggapan to “Ekonomi & Teknologi”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: