Stres, Atasi dengan Bersyukur

DIDUGA STRES, Ny Ismiati (35) membunuh kedua anaknya masing-masing Fuadi Rasyid (4 bulan) dan Mutiara Yusuf (2 tahun) di rumahnya di RT 04/04, nomor 22 Kalibaru, Medan Satria, Bekasi, Nomor 22.

Kasat Reskrim Polres Metro Bekasi, Kompol Budi Sartono di Bekasi, Jumat menjelaskan, kedua mayat dua bayi di bawah lima tahun (Balita) itu ditemukan tergeletak di lantai rumah tersebut dalam keadaan tidak bernyawa oleh tetangga korban.
     
Saat ditemukan sekitar pkl. 07.00 WIB, tangan kedua Balita itu terikat karet, tubuhnya basah kuyub dan ditutupi kain basah. Diduga korban dibunuh dengan cara menceburkan ke bak mandi oleh ibu kandungnya.

Sang ibu yang sedang berada dalam penahanan Polres Metro Bekasi ini sulit diajak bicara. Kalaupun bisa, pembicaraannya tidak jelas dan mengacau.  Menurut psikolog klinis dari Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, Heri Widodo, M.Psi, pasti ada beban hidup yang menimpa si ibu sampai dia bisa melakukan hal ini.  Dan memang, bisa dikatakan bahwa sang ibu ini sedang stres.

Pada dasarnya, kata Heri, manifestasi stres bisa beragam. Tergantung karakter kepribadian. “Ada yang melakukan tindakan membahayakan seperti bunuh diri atau melukai orang lain, membunuh orang lain termasuk keluarganya seperti kasus ini,”

Stres bisa jadi membuat orang menjadi psikotik atau sering kita sebut gila, menyebabkan halusinasi, berkepribadian ganda. Keluarga, dalam hal ini paling rawan menjadi penyebab terjadinya stres. Sehingga bisa jadi si anak justru yang menjadi stresor (penyebab stres). “Tapi sebaliknya, justru keluarga jugalah yang mampu membantu pulihnya stres,” jelas Heri.

Karena itu, tidak mudah membuat si ibu bicara dan menceritakan apa yang terjadi, tegas Heri. Butuh orang yang bisa dipercaya olehnya, mau menerima dia apa adanya. Biasanya dari kalangan keluargalah yang bisa melakukan pendekatan ini. Sulit diketahui butuh berapa lama kondisi ini bisa pulih.

Agar tidak stres banyak hal bisa dilakukan. Pada dasarnya menerima hidup apa adanya merupakan salah satu langkah yang bisa dilakukan agar kita tidak stres. Banyaknya keinginan, sementara kemampuan terbatas bisa membuat orang tertekan dan depresi. Jadi, kita perlu mensyukuri apa pun yang kita alami dan terima setiap hari.

Heri menjelaskan, stres pada dasarnya bisa dikelola. Tergantung dari kemampuan pribadi masing-masing. Kedewasaan pribadi dalam hal ini menentukan apakah seseorang mampu atau tidak menghadapi stresor.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: